Beranda Tentang Kami Pelayanan Download Hubungi Kami Indonesia English

Oleh:
dr. Ni Nyoman K. Kusumayani

Editor & Layout:
Tim Web UPT.Puskesmas Kuta I

DETEKSI DINI RISIKO OBESITAS PADA REMAJA DAN ANAKc
 

Sabtu, 5 November 2016 DiaradAnak Dengan Zinc

Obesitas menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah penumpukan lemak tubuh berlebihan yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Saat ini kegemukan (overweight) dan obesitas menjadi salahsatu masalah kesehatan yang mendunia baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Laporan WHO pada tahun 1998 menyatakan bahwa tingkat obesitas saat itu sudah dalam tingkat epidemik yang jika dibiarkan akan menjadi obesitas global. Hal ini perlu mendapatkan perhatian yang serius terutama di negara berkembang seperti Indonesia dengan pola makan anak-anak yang meniru pola makan gaya barat.


Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) di Indonesia, obesitas yang ditemukan pada anak tahun 2007 sebesar 9,5% meningkat menjadi 18,8 % di Tahun 2013. Hal ini berarti dalam kurun waktu enam tahun angka obesitas anak meningkat hampir dua kali lipat. Olehkarenaitu, kondisi obesitas anak di Indonesia yang berada pada level mengkawatirkan perlu mendapat perhatian para orang tua. Namun terkadang orang tua belum memahami bagaimana cara menghitung apakah anaknya tersebut sudah tergolong obesitas atau bukan? Berikut adalah tipsnya.
Cara menentukan obesitas pada anak dan remaja adalah sebagai berikut :

• Tentukan IMT (Indeks Massa Tubuh)
IMT = BeratBadan (kg)
TinggiBadan (m)2
• Plot ke dalam grafik IMT sesuai usia dan jenis kelamin
• Obese : bila IMT > P-95 ( Persentil 95 )


 


Penyebab Obesitas pada Anak dan Remaja adalah sebagai berikut:

- Pola makan yang buruk, seperti misalnya terlalu banyak mengkonsumsi makanan cepat saji (fastfood), gorengan, makanan/minuman kemasan, frozen food (seperti nugget,sosis,bakso, dll) serta kurangnya konsumsi buah dan sayur.
- Makan atau ngemil terlalu banyak
- Kurangnya olahraga pada anak
- Riwayat keluarga mengidap obesitas
- Penyakit medis (endokrin,masalah-masalah neurologis)
- Obat (steroid,beberapa obat psikiatris)
- Stress atas suatu kejadian atau perubahan (perpisahan ,perceraian orang tua,pindah lingkungan,kematian,pelecehan)
- Masalah dengan keluarga atau teman
- Perasaan rendah diri
- Depresi atau masalah emosional lainnya.

Perlu diketahui bahwa jaringan lemak yang terdapat di dalam tubuh selain berfungsi sebagai penyimpan cadangan/kelebihan energi juga berfungsi sebagai organ endokrin. Sebagai organ endokrin, jaringan lemak mengeluarkan hormon yang dapat menimbulkan peradangan di dalam tubuh. Proses peradangan ini lebih lanjut akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah,kolesterol tinggi,kencing manis dan penyakit jantung. Selain itu, beberapa komplikasi obesitas pada anak dan remaja seperti fungsi kognitif rendah, perlemakan hati/gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal, kematian usia muda.

Bagaimana Mencegah Obesitas ?

Upaya-upaya berikut ini dapat dilakukan untuk menghindari anak menjadi obesitas antara lain :
-Pencegahan Primer, artinya tindakan untuk mencegah agar anak tidak menjadi obesitas. Dapat dilakukan dengan cara pola makan yang benar dan monitoring berat badan secara berkesinambungan.
-Pencegahan Sekunder, jika sudah terjadi obesitas maka dilakukan pengobatan dan mencegah agar tidak terjadi komplikasi dari obesitas tersebut.
-PencegahanTersier, pengobatan yang dilakukan jika sudah terjadi komplikasi dari obesitas dan mempertahankan kualitas hidup dari penderita obesitas.

Bagaimana mendeteksi secara dini Obesitas ?

Deteksi dini obesitas dapat dipantau dari Adiposity rebound. Adiposity rebound adalah titik pada saat IMT meningkat setelah mencapai IMT terendah. Adapun perjalanan alamiah sel lemak adalah sbb :
- Mula-mula ukuran sel lemak membesar dari lahir sampai usia setahun, sehingga IMT meningkat.
- Kemudian ukuran sel lemak stabil sampai usia 4-6 tahun sehingga IMT menurun sampai titik terendah di usia 4-6 tahun karena tinggi badan bertambah.
- Akhirnya ukuran dan jumlah sel lemak meningkat lagi sehingga IMT meningkat kembali
- “Titik” pada saat IMT meningkat setelah mencapai IMT terendah disebut adiposity rebound. Adiposity rebound biasanya terjadi saat usia 4-6 tahun.
- Semakin dini usia adiposity rebound (early adiposity rebound), pada usia kurang dari 4 tahun maka semakin tinggi risiko obesitas di kemudian hari.

Bagaimana cara mencegah Early Adiposity Rebound ?

Hal ini dapat dilakukan pada periode berikut :
Masa Bayi (0-1 tahun ) :
- Memberikan ASI Eksklusif selama 6 bln dan dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun
- Makanan pendamping ASI yang benar.
- Pola tidur yang sehat
- Hindari kebiasaan menenangkan bayi menggunakan makanan
- Stimulasi perkembangan motorik
- Hindari peningkatan berat badan berlebihan
Masa Toddler (1-3 tahun) :
- Aktifitas bermain minimal sejam sehari
- Hindari screen time berlebih
- Pola makan benar dan sehat

 

Dikutip dari berbagai sumber
Referensi : Seminar “ Deteksi Dini Risiko Obesitas Pada Anak dan Remaja “ oleh DR.dr. I Gusti Lanang Sidiartha,SpA (K)


 

             

 

Pemerintah Kabupaten Badung
Dinas Kesehatan

UPT. Puskesmas Kuta I

Jl. Raya Kuta No. 117, Badung, Bali, Indonesia
Telp. (0361) 751311
Email: info@puskesmaskutasatu.com