Beranda Tentang Kami Pelayanan Download Hubungi Kami Indonesia English

Oleh:
Ni Putu Elly Listari, Amd.Kep

Editor & Layout:
Tim Web UPT.Puskesmas Kuta I

MENGENAL PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN IMS c
 

Rabu, 21 September 2016

DiaradAnak Dengan Zincindex.jpg     

 
Infeksi Menular seksual ( IMS ) merupakan salah satu penyebab permasalahan kesehatan, social dan ekonomi di banyak negara. Hampir 500 juta kasus baru IMS terjadi setiap tahun di seluruh dunia . Banyak IMS tersebut merupakan penyakit yang dapat dicegah atau diobati.
Dalam pengendalian HIV , dapat dijelaskan bahwa IMS merupakan pintu masuk infeksi HIV, terutama sifilis yang sudah menjadi permasalahan global. Sifilis dapat meningkatkan resiko tertular HIV sampai 300 kali lipat.



Berdasarkan hasil Survei Terpadu dan Biologis Prilaku yang telah dilakukan, dapat dilihat jika kejadian IMS terutama Sifilis, GO dan / atau Clamidia masih tinggi pada populasi kunci yang berisiko terinfeksi IMS. Hal tersebut akan berdampak pada masyarakat umum yang kemungkinan mempunyai pasangan di kelompok resiko diatas.



Belum lagi perkembangan penggunaan kondom bagi orang yang beriseko terinfeksi IMS secara konsisten sangan rendah. Kejadian itu terjadi pada semua populasi kunci . Sehingga menjadi pemicu tingginya kasus IMS.

Melihat hal  tersebut maka dilaksanakanlan program pencegahan dan pengendalian IMS yang bertujuan untuk  mengurangi morbiditas dan mortalitas berkaitan dengan IMS,  mencegah infeksi HIV, mencegah komplikasi serius pada kaum perempuan dan mencegah efek buruk kehamilan,

Infeksi menular seksual, selain infeksi HIV menimbulkan beban morbiditas dan mortalitas terutama di negara sedang berkembang dengan sumber daya yang terbatas, baik secara langsung yang berdampak pada kualitas hidup, kesehatan reproduksi dan anak-anak serta secara tidak langsung melalui perannya dalam mempermudah transmisi seksual, infeksi HIV dan dampaknya terhadap perekonomian.

Spektrum gangguan kesehatan yang ditimbulkan IMS mulai dari penyakit akut yang ringan sampai lesi yang terasa nyeri serta gangguan psikologis. Misalnya , infeksi N. gonnorrrhoeae menimbulkan nyeri saat berkemih ( disuria ) pada laki-laki , dan nyeri perut bagian bawah akut ataupun kronis pada perempuan.Hal yang senada juga terjadi pada infeksi oleh T. paliidum, meskipun tidak nyeri pada stadium awal, namun dapat menimbulkan berbagai kelainan neurologis, kardiovaskuler serta gangguan tulang di kemudian hari, serta abortus pada perempuan hamil dengan infeksi akut. Hal tersebut terjadi bila seseorang tidak mendapat pengobatan yang tepat.

Mencegah dan mengobati IMS dapat mengurangi resiko penularan HIV melalui hubungan seks, terutama pada populasi yang paling memungkinkan memiliki banyak pasangan seksual, misalnya penjaja seks dan pelanggannya.Keberadaan IMS dengan bentuk inflamasi atau ulserasi akan meningkatkan resiko masuknya infeksi HIV saat melakukan hubungan seks tanpa pelindung dengan seorang yang telah terinfeksi IMS dengan pasangan yang belum tertular. Apalagi dengan riwayat seseorang yang pernah menderita ulkus genital ( luka di daerah genital ) diperkirakan meningkatkan resiko tertular HIV 50-300 kali saat melakukan hubungan seks tanpa kondom.

Infeksi Menular seksual merupakan penyebab kemandulan yang dapat dicegah, terutama pada perempuan. Antara 10% - 40% perempuan  dengan infeksi Chlamydia yang tidak diobati akan mengalami penyakit radang panggul ( PRP ). Kerusakan tuba falopii pasca infeksi berperan pada kemandulan perempuan 30-40% dan kemungkinan 6-10 kali mengalami kehamilan ektopik terganggu. Pencegahan PRP berperan dalam pencegahan kematian ibu akibat kehamilan ektopik dan pencegahan infeksi human papiloma ( HPV) akan menurunkan angka kematian perempuan terutama akibat kanker serviks.

Disamping itu IMS yang tidak diobati , sering kali dihubungkan dengan infeksi congenital atau perinatal pada neonatus, terutama di daerah dengan angka infeksi yang tinggi. Perempuan hamil dengan sifilis dini yang tidak diobati, sebanyak 25 % mengakibatkan kematian janin  dan 14 % kematian neonates.Sedangkan  kehamilan pada perempuan dengan infeksi gonokokus yang tidak diobati, sebesar 30% akan menimbulkan abortus spontan dan kelahiran premature dan sampai 10 % akan menyebabkan kematian perinatal. Dalam ketiadaan upaya pencegahan, 30% -50% bayi yang lahir dari ibu dengan gonnorea tanpa pengobatan akan mengalami oftalmia neonatorum yang dapat menyebabkan kebutaan.

Dengan mengetahui efek samping yang ditimbulkan dari IMS diharapkan masyarakat mau datang ke fasilitas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan rutin IMS baik yang sudah mempunyai gajala maupun yang tidak bergejala.

 

Sumber : Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual , 2015
                 www.bkkbn.go.id/.../Kemenkes%20[Compatibility%20Mode]

 

 

 

 

 

 

Pemerintah Kabupaten Badung
Dinas Kesehatan

UPT. Puskesmas Kuta I

Jl. Raya Kuta No. 117, Badung, Bali, Indonesia
Telp. (0361) 751311
Email: info@puskesmaskutasatu.com