Beranda Tentang Kami Pelayanan Download Hubungi Kami Indonesia English

Oleh:
dr. I Made Agus Endra P, S.Ked

Editor & Layout:
Tim Web UPT.Puskesmas Kuta I

SINDROMA METABOLIK c
 

Sabtu, 10 Desember 2016 DiaradAnak Dengan Zinc

Sindroma metabolik (SM) merupakan suatu kumpulan faktor risiko metabolik yang berkaitan langsung terhadap terjadinya penyakit kardiovaskuler artherosklerotik. Faktor risiko tersebut antara lain terdiri dari dislipidemia atherogenik, peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar glukosa plasma, keadaan prototrombik, dan proinflamasi. Ketika kondisi-kondisi tersebut berada pada waktu yang sama pada satu orang, maka orang tersebut memiliki risiko yang tinggi terhadap penyakit makrovasculer. Berbagai organisasi telah memberikan definisi yang berbeda, namun seluruh kelompok studi setuju bahwa obesitas, resistensi insulin, dislipidemia dan hipertensi merupakan komponen utama SM. Jadi meskipun SM memiliki definisi yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama yaitu mengenali sedini mungkin gejala gangguan metabolik sebelum seseorang jatuh ke dalam beberapa komplikasi

Berdasarkan pedoman IDF tahun 2005, seseorang dikatakan menderita SM bila ada obesitas sentral (lingkar perut > 90 cm untuk pria Asia dan lingkar perut > 80 cm untuk wanita Asia) ditambah 2 dari 4 faktor berikut : (1) Trigliserida > 150 mg/dL (1,7 mmol/L) atau sedang dalam pengobatan untuk hipertrigliseridemia; (2) HDL-C: < 40 mg/dL (1,03 mmol/L) pada pria dan < 50 mg/dL (1,29 mmol/L) pada wanita atau sedang dalam pengobatan untuk peningkatan kadar HDL-C; (3) Tekanan darah: sistolik > 130 mmHg atau diastolik > 85 mmHg atau sedang dalam pengobatan hipertensi; (4) Gula darah puasa (GDP) > 100 mg/dL (5,6 mmol/L), atau diabetes tipe 2.

Gejala
Sindrom metabolik biasanya tidak memiliki gejala langsung. Sebagian besar faktor risiko terkait dengan sindrom metabolik tidak memiliki tanda-tanda atau gejala, kecuali pinggang besar yang mudah terlihat. Dokter dapat mendiagnosis sindrom metabolik dengan mengukur tekanan darah dan lingkar pinggang Anda dan meminta tes darah sederhana untuk mengetahui kadar kolesterol, trigliserida, dan gula darah. Masalah medis yang terkait sindrom metabolik berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu. Beberapa orang mungkin memiliki gejala gula darah tinggi (jika memiliki diabetes) atau gejala tekanan darah tinggi (jika memiliki hipertensi). Gejala gula darah tinggi yang mungkin hadir adalah rasa haus yang meningkat, sering buang air kecil, terutama pada malam hari, kelelahan dan penglihatan kabur. Tekanan darah tinggi umumnya tidak memiliki tanda-tanda atau gejala. Namun, beberapa orang pada tahap awal hipertensi mungkin merasakan sakit kepala, pusing, atau mimisan lebih sering dari biasanya.

Penyebab
Penyebab yang mendasari sindrom metabolik masih belum diketahui pasti, namun resistensi insulin dan obesitas sentral dianggap faktor yang signifikan. Genetika, aktivitas fisik, penuaan, kondisi proinflamasi dan perubahan hormonal juga mungkin turut berperan.

1. Resistensi insulin

Resistensi insulin berarti tubuh Anda tidak menggunakan hormon insulin secara efektif sebagaimana mestinya. Sistem pencernaan Anda memecah karbohidrat menjadi glukosa, yang kemudian berpindah dari usus Anda ke dalam aliran darah. Saat tingkat glukosa darah Anda naik, pankreas mengeluarkan insulin ke dalam aliran darah Anda. Insulin ini memungkinkan glukosa untuk pindah ke sel-sel otot Anda dari darah Anda. Setelah masuk sel, glukosa dibakar bersama dengan oksigen untuk menghasilkan energi.

Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel dalam tubuh (hati, otot rangka dan jaringan lemak) menjadi kurang sensitif dan akhirnya resisten terhadap insulin. Glukosa tidak lagi dapat diserap oleh sel-sel tetapi tetap berada dalam darah, sehingga memicu produksi insulin yang lebih banyak (hiperinsulinemia) untuk memproses glukosa itu. Produksi insulin yang terus-menerus tinggi akhirnya dapat membuat sel-sel beta di pankreas yang memproduksi insulin kelelahan. Ketika sel-sel itu tidak lagi mampu memproduksi insulin yang cukup, glukosa darah tinggi (hiperglikemik) dan Anda akan didiagnosis menderita diabetes tipe 2. Bahkan sebelum ini terjadi, dampak kerusakan sudah muncul di tubuh. Resistensi insulin merupakan fitur khas yang mendasari sindrom metabolik dan diabetes tipe 2 karena sangat terkait dengan penyimpangan glukosa dan metabolisme lemak. Resistensi insulin meningkatkan kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah Anda, menyebabkan kerusakan pada arteri, meningkatkan tekanan darah dan merusak sistem mikrovaskuler tubuh (menyebabkan kerusakan ginjal, mata dan saraf).

2. Obesitas sentral

Obesitas sentral adalah ketika timbunan utama lemak tubuh berada di sekitar perut dan tubuh bagian atas. Hal ini ditandai oleh lingkar pinggang yang lebih besar dari normal dan tubuh menjadi “berbentuk seperti apel”. Sebagai aturan umum, jika lingkar pinggang Anda di atas 90 cm atau lebih (laki-laki) atau 80 cm atau lebih (perempuan), Anda mungkin perlu untuk menurunkan berat badan.
Lemak tubuh meningkatkan kolesterol dan trigliserida dalam otot rangka, yang merusak sekresi insulin, meningkatkan kadar glukosa darah dan risiko diabetes. Kelebihan jaringan lemak di perut juga memicu inflamasi sitokin yang meningkatkan resistensi insulin dalam otot-otot rangka. Selain itu, obesitas sentral juga terkait dengan penurunan produksi adiponektin, yang memiliki fungsi antidiabetes, anti-aterosklerosis dan anti-inflamasi.

Pencegahan/Pengelolaan
Sindrom metabolik memiliki beberapa penyebab yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. Anda tidak dapat menahan proses penuaan dan kerentanan yang bersifat bawaan (genetik). Namun, Anda bisa menghilangkan resistensi insulin dan kelebihan lemak di perut Anda.
Terapi lini pertama untuk sindrom metabolik adalah perubahan gaya hidup, termasuk penurunan berat badan, peningkatan aktivitas fisik, diet yang sehat dan berhenti merokok. Perubahan gaya hidup juga dapat membantu membalikkan atau mengurangi risiko penyakit jantung dan diabetes dan komplikasi dari kondisi tersebut.

• Penurunan berat badan: jika Anda kelebihan lemak di sekitar pinggang, Anda perlu menurunkan berat badan.
• Peningkatan aktivitas fisik: olahraga 30 menit sehari dengan latihan moderat dapat membantu Anda menurunkan berat badan, menurunkan resistensi insulin, menurunkan tekanan darah, dan LDL (kolesterol jahat), meningkatkan HDL (kolesterol baik), dan mengurangi risiko diabetes dan penyakit jantung
• Diet yang sehat: pilihlah makanan yang sehat untuk menurunkan berat badan dan mengurangi resiko terkena penyakit jantung atau diabetes.
• Berhenti merokok: bila Anda merokok, Anda harus segera menghentikannya. Selain menyebabkan penyakit jantung, merokok meningkatkan kadar trigliserida dan menurunkan HDL.
Kadang-kadang perubahan gaya hidup saja tidak cukup, dokter Anda mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk membantu mengelola faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, glukosa darah tinggi dan kolesterol tinggi.


Sumber : Repositori Universitas Sumatra Utara. Web : http: //repository. ussu.ac.id /bitstream /123456789 /25508/4/Chapter%20II.pdf

 

 

 

             

 

Pemerintah Kabupaten Badung
Dinas Kesehatan

UPT. Puskesmas Kuta I

Jl. Raya Kuta No. 117, Badung, Bali, Indonesia
Telp. (0361) 751311
Email: info@puskesmaskutasatu.com