Beranda Tentang Kami Pelayanan Download Hubungi Kami Indonesia English

Oleh:
Ni Nym. Tri Cahyanti, Amd.Kep. Pemegang Program P2 Kusta

Editor & Layout:
dr. A.A. Gde Putra Semara Jaya

Kenali Penyakit Kusta Lebih Dekat
 

Sabtu, 20 Nopember 2010ar PadAnak Dengan Zinc

Kusta atau Lepra (Leprosy) merupakan penyakit tahunan yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit, dan jaringan tubuh lainnya. Penyakit kusta dapat mengenai laki-laki maupun perempuan dalam segala umur. Penderita kusta adalah orang yang mempunyai satu atau lebih dari tanda pasti (cardinal signs) dan belum pernah menyelesaikan pengobatan dengan Multiple Drugs Therapy (MDT) yang sesuai dengan klasifikasi penyakitnya.

Penyakit kusta menular langsung dari penderita kusta yang tidak berobat, cara penularannya belum pasti diketahui, tetapi sebagian besar para ahli berpendapat bahwa penyakit kusta ditularkan melalui droplet (pernafasan), dan hanya kalau berhubungan erat dan lama. Orang tidak mampu/miskin lebih rentan mengidap penyakit kusta, sebab berhubungan langsung dengan status gizi dan kekuatan daya tahan tubuhnya. Masa perkembangbiakan bakteri 2-3 minggu sehingga inkubasinya memerlukan waktu yang lama, antara 3-5 tahun. Penderita yang sudah satu dosis pengobatan MDT tidak menularkan penyakit lagi.


TANDA PENYAKIT KUSTA
1. Tanda Pasti

- Kulit dengan bercak putih / kemerahan dengan mati rasa yang jelas
- Penebalan saraf tepi, disertai kelainan fungsinya berupa mati rasa atau kelemahan pada otot tangan, kaki, atau mata
- Pemeriksaan korekan kulit (Basil Tahan Asam [BTA]) positif


2. Tanda Lain
- Kulit yang kelihatan seperti alergi, tetapi tidak gatal dan tidak timbul secara mendadak
- Kulit yang tebal dan berbenjolan seperti jerawat batu, tetapi tidak merasa sakit, lebih sering pada muka dan daun telinga


KLASIFIKASI PENYAKIT KUSTA
Penyakit kusta ada 2 jenis, yaitu:
1. Kusta Kering (Pausibasiler [PB])
2. Kusta Basah (Multibasiler [MB])

PAUSIBASILER (PB)
Kalau seseorang mempunyai daya tahan tubuh yang masih mampu sedikit melawan Mycobacterium leprae, bakteri tidak sempat menjadi terlalu banyak. Dia disebut “Pausibasiler” (sedikit bakteri) atau disebut golongan PB. Secara klinis, seseorang diklasifikasi sebagai penderita kusta golongan PB apabila:
Mempunyai 1-5 bercak saja pada kulitnya. Bercak itu mirip panu, tetapi tidak gatal, malah tidak terasa kalau di sentuh. Tidak ada saraf yang tebal atau terganggu, dan BTA negatif.
ATAU
Mempunyai 1-3 bercak pada kulitnya dan/atau maksimum satu saraf yang tebal atau fungsinya terganggu.

MULTIBASILER (MB)
Tetapi kalau daya tahan tubuhnya tidak melawan serangan Mycobacterum leprae sama sekali, bakteri itu sempat berkembang biak dengan bebas sampai ada banyak sekali. Seseorang yang begitu disebut “Multibasiler” (banyak bakteri) atau disebut golongan MB. Secara klinis, seseorang diklasifikasi sebagai penderita MB kalau dia mempunyai salah satu ataupun kombinasi dari yang berikut:

  • Lebih dari 5 bercak di kulit, yang mirip panu tetapi tidak gatal semakin banyak bercak, semakin tidak terganggu perasaannya
  • Lebih dari 3 bercak di kulit, kalau disertai 1 saraf yang tebal atau fungsinya diganggu
  • Lebih dari 1 saraf yang tebal ataupun fungsinya terganggu
  • Kelainan kulit mirip alergi, tetapi tidak mendadak dan tidak juga gatal
  • Infiltrat (penebalan/pembengkakan serta kemerahan) pada kulit, terutama muka dan daun telinga, yang tidak gatal atau sakit
  • Benjolan-benjolan seperti jerawat batu tetapi tidak sakit dan tidak gatal
  • BTA positif (dengan tidak mengidahkan tanda klinis)


PENGOBATAN

Melalui pengobatan, penderita diberikan obat-obat yang membunuh kuman kusta. Dengan demikian, pengobatan akan:

  • Memutus mata rantai penularan
  • Menyembuhkan penyakit penderita
  • Mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan.

Regimen MDT yang dianjurkan oleh WHO adalah:

1. Regimen untuk penderita PB
• Lama pengobatan 6 blister diminum dalam batas waktu 9 bulan
Dosis dewasa
Sekali sebulan diminum di depan petugas
2 kapsul Rifampisin 300 mg (jumlah 600 mg)
1 tablet DDS (Dapsone) 100 mg
Diminum di rumah selama 27 hari
1 tablet DDS 100 mg
Dosis anak 10-14 tahun
Sekali sebulan, Rifampicin 450 mg dan DDS 50 mg
Setiap hari dirumah DDS 50 mg

2. Regimen untuk penderita MB
• Lama pengobatan 12 blister diminum dalam batas waktu 18 bulan
Dosis dewasa
Sekali sebulan diminum di depan petugas
2 kapsul Rifampicin 300 mg (jumlah 600 mg)
1 tablet DDS 100 mg
3 kapsul Lamprene (Clofazamine) 100 mg (jumlah 300 mg)
Diminum di rumah selama 27 hari
1 tablet DDS 100 mg
1 kapsul Lamprene 50 mg
Dosis anak 10-14 tahun
Sekali sebulan, Rimfapicin 450 mg, Lamprene
150 mg dan DDS 50 mg.
Setiap hari di rumah, Lamprene 50 mg dan DDS 50 mg

EFEK SAMPING OBAT

  • Rimfapicin: kencing merah selama 1-2 hari; hal ini tidak berbahaya.
  • Lamprene: kulit menjadi hitam, tetapi hanya selama minum Lamprene. Sesudah selesai pengobatan, kulit kembali semula dengan perlahan-lahan.
  • DDS: bila agak pusing sesudah minum DDS sebaiknya diminum pada malam hari, sebelum tidur; ada kemungkinan kecil obat tidak cocok (alergi). Sangat penting pasien lapor kembali ke puskesmas bila terjadi pada dua bulan yang pertama: gatal hebat, kulit merah sampai terkupas dan demam.

Catatan
- Pengobatan MDT, tidak boleh satu jenis obat saja.
- Penderita dapat diberikan obat lebih dari sebulan, jika rumah penderita jauh, berpindah-pindah atau keluar daerah untuk kerja sementara.
- Obat tidak berbahaya bagi janin dan tidak mengganggu produksi ASI.
- Penderita drop out (DO), jika bolos pengobatan lebih dari 3 bulan (untuk PB) atau 6 bulan (untuk MB). Penderita harus mulai pengobatannya lagi.


KECACATAN


REAKSI KUSTA
Terkadang daya tahan tubuh penderita kusta ketika mulai aktif melawan kuman kusta yang berada dalam kulit dan saraf-saraf, menyebabkan peradangan pada kulit dan saraf, rasa sakit, dan bengkak, lalu kerusakan. Peradangan inilah yang disebut “Reaksi”.

Gejala Reaksi
- Bercak yang menebal dan memerah
- Benjolan baru yang merah dan sakit
- Benjolan / bercak yang berulserasi / pecah
- Demam
- Saraf yang sangat nyeri
- Kehilangan rasa raba atau kekuatan jari

Tindakan
- Obat kusta dilanjutkan seperti biasa
- Perlu ke puskesmas dengan segera. Petugas akan memberi obat tambahan untuk mengatasi rasa sakit dan agar tidak terjadi kerusakan saraf
.


Sumber:
- Buku Pedoman Singkat Pemberantasan Penyakit Kusta, Program Kerjasama Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan The Leprosy Mission International
- Materi Pelatihan P2 Kusta bagi Medis dan Paramedis Puskesmas, Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular Langsung, Direktorat Jenderal PPM dan PLP Departemen Kesehatan RI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemerintah Kabupaten Badung
Dinas Kesehatan

UPT. Puskesmas Kuta I

Jl. Raya Kuta No. 117, Badung, Bali, Indonesia
Telp. (0361) 751311, Fax. (0361) 764735
Email: info@puskesmaskutasatu.com