Beranda Tentang Kami Pelayanan Download Hubungi Kami Indonesia English

 

Oleh:
dr. Putu Jerry Eka Rahayu P.

Editor & Layout:
dr. A.A. Gde Putra Semara Jaya

Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)
 

Sabtu, 13 Februari 2010 nak Dengan Zinc

Klik disini untuk melihat brosur kami

Penyalahgunaan narkotika di Indonesia semakin hari semakin marak. Dengan maraknya penyalahgunaan narkotika tersebut maka dampak buruknya pun semakin meluas. Salah satu dampak buruk dari penyalahgunna narkotika khususnya narkotika suntik adalah penyebaran HIV/AIDS dikalangan pengguna maupun yang bukan pengguna seperti istri/suami/pasangan dan anak si pengguna. Seperti yang kita telah ketahui penyakit HIV/AIDS masih merupakan ancaman global dan belum ditemukan pengobatan yang memuaskan. Sehingga sangatlah penting untuk mencegah penularannya. Salah satu upaya untuk mencegah penularan HIV/AIDS terutama dari kalangan pengguna narkotika suntik (penasun) adalah dengan program harm reduction atau program pengurangan dampak buruk akibat penggunaan narkotika suntik. Terdapat 12 langkah penanggulangan dan salah satunya adalah terapi substitusi dengan pemberian metadon.

 

Terapi substitusi yang sering kita kenal dengan nama Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) ini adalah terapi yang bertujuan mengganti penggunaan zat seperti heroin atau morfin dengan metadon. Metadon adalah suatu zat yang secara kimiawi termasuk dalam golongan opioid sama halnya dengan heroin ataupun morfin. Metadon berfungsi menekan susunan saraf pusat dan mempunyai efek penghilang rasa sakit yang kuat. Walaupun segolongan dan bekerja dengan cara yang sama tetapi metadon memiliki beberapa perbedaan dengan morfin atau heroin dimana metadon mudah dicerna secara oral (diminum) berbeda dengan golongan opioid lain yang tidak memiliki sifat itu sehingga harus digunakan dengan cara disuntikkan untuk mendapatkan efek yang diinginkan. Sehingga dengan penggunaan metadon sebagai terapi pengganti jenis opioid suntik yang lain maka akan mengurangi penggunaan narkotika suntik dan pada akhirnya akan dapat menurunkan angka kejadian HIV/AIDS. Berbeda dengan heroin atau morfin klien yang beralih ke metadon dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih stabil. Selain karena penggunaanya yang cukup diminum sekali sehari juga karena efek yang diharapkan dari penggunaan metadon bukanlah efek ”fly” seperti pada penggunaan heroin atau morfin. hal inilah yang menyebabkan klien metadon dapat lebih aktif dalam kehidupan sehari-hari sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Hal lain tentang terapi metadon adalah biaya terapi yang relatif murah bila dibandingkan dengan penggunaan narkotika suntik.

Terdapat beberapa tahapan dalam terapi rumatan metadon. Tahap awal adalah tahap penentuan apakah seseorang klien bisa atau tidak masuk dalam PTRM. Terdapat beberapa kriteria inklusi dan ekslusi diantaranya adalah:

Kriteria inklusi

  • Harus memenuhi kriteria ICD-X untuk ketergantungan opioid
  • Usia 18 tahun atau lebih, jika belum 18 tahun harus mendapat second opinion dari profesional medis lain
  • Mengalami ketergantungan opioid dalam jangka waktu 12 bulan terakhir
  • Sudah pernah mencoba berhenti menggunakan opioid minimal satu kali

Kriteria eksklusi

  • Klien dengan penyakit fisik yang berat
  • Psikosis yang jelas
  • Retardasi mental

Tahap selanjutnya adalah pemberian konseling terutama konseling tentang adiksi dan membuat rencana perawatan. Tahap terapi rumatan metadon sendiri terbagi dalam 4 tahap yaitu tahap pemberian dosis awal, fase stabilisasi, fase rumatan dan fase reduksi. Pada fase pemberian dosis awal dimulai dengan dosis yang sangat rendah yaitu 15-30 mg perhari untuk kemudian pada fase stabilisasi dosis dinaikkan bertahap 5-10 mg setiap 3-5 hari. Pasien dikatakan mencapai dosis rumatan atau pemeliharan apabila dengan dosis hariannya pasien/klien telah merasa stabil baik secara emosional, pekerjaan dan kehidupan sosial. Rata-rata dosis rumatan bervariasi antara 60-120 mg per harinya tetapi sangat bervariasi pada masing-masing individu. Fase rumatan tersebut dapat berlangsung selama bertahun-tahun hingga klien merasa benar-benar stabil. Fase penghentian metadon atau fase reduksi juga dilakukan secara bertahap. Tahap penghentian dapat dimulai apabila klien telah dalam keadaan stabil, minimal 6 bulan dalam keadaan bebas heroin, dan pasien dalam keadaan stabil untuk bekerja dan dalam lingkungan rumah. Penurunan dosis maksimal sebanyak 10 % dan penurunan dosis yang direkomendasikan adalah setiap 2 minggu. Dalam menjalani terapi klien akan secara berkala dipantau kesehatannya dan diberikan konseling secara berkala pula. Dalam terapi rumatan metadon terkadang timbul beberapa efek samping seperti konstipasi (sembelit), mengantuk, berkeringat, mual, muntah, gangguan fungsi seksual, gatal dan juga jerawat. Metadon diberikan kepada klien dalam bentuk cair dan dalam pemberiannya dicampur dengan sirup hingga mencapai 100 cc untuk mengurangi rasa pahit. Setelah mengkonsumsi metadon klien akan diberikan permen untuk dikunyah tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah air liur dan sehingga mengurangi efek samping kerusakan pada gigi.

Program terapi rumatan metadon di Bali pertama kali diadakan di RSUP sanglah. Lalu kemudian seiiring meningkatnya jumlah klien yang ingin menjalani terapi substitusi dengan metadom maka dibangunlah satelit-satelit pelayanan metadon. Salah satunya PTRM Puskesmas Kuta 1. Program terapi rumatan metadon yang berdiri sejak 5 september 2006 ini hingga saat ini memiliki 52 orang klien yang secara rutin memperoleh terapi substitusi metadon setiap harinya. PTRM Kuta I dipilih karena mudahnya akses bagi para klien yang kebanyakan bekerja dan bermukim di daerah Kuta sehingga mereka tidak harus menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan metadon dan secara otomatis akan meningkatkan kepatuhan mereka dalam menjalani terapi metadon dan pada akhirnya akan berimbas pada membaiknya kualitas hidup mereka. Selain pemberian metadon, PTRM Puskesmas Kuta I juga menyediakan layanan konseling, VCT, pemeriksaan fisik, laboratorium, penyedian jarum suntik steril dan kondom.

Mengingat begitu banyaknya keunggulan metadon dibandingkan penggunaan narkotika suntik lain seperti heroin dan morfin maka tidak salah jika terapi subtitusi ini merupakan pilihan dan begitu diminati. Suatu terapi substitusi yang aman, murah dan membuat penggunanya dapat hidup dengan lebih baik.

 

Sumber :
• Modul dan Kurikulum Pelatihan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) Th 2007
• KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN R I NO. 494/MENKES/SK/VII/2006


             

 

 

 

 

 

Pemerintah Kabupaten Badung
Dinas Kesehatan
UPT. Puskesmas Kuta I

Jl. Raya Kuta No. 117, Badung, Bali, Indonesia
Telp. (0361) 751311, Fax. (0361) 764735
Email: info@puskesmaskutasatu.com