Beranda Tentang Kami Pelayanan Download Hubungi Kami Indonesia English

 

Oleh:
dr. I Made Herry Hendrawan

Editor & Layout:
dr. A.A. Gde Putra Semara Jaya

Waspadai Rabies di Sekitar Andac
 

Kamis, 10 Nopember 2010ar PadAnak Dengan Zinc

Rabies adalah penyakit infeksi akut pada Sistem Saraf Pusat (SSP) yang disebabkan oleh virus rabies, dan ditularkan melalui gigitan hewan menular rabies terutama anjing, kucing, kera, dan kelelawar. Penyakit rabies atau penyakit anjing gila, merupakan penyakit yang bersifat fatal atau selalu diakhiri dengan kematian bila tidak ditangani dan diobati dengan baik. Telah dilaporkan 98 persen kasus rabies di Indonesia ditularkan akibat gigitan anjing dan 2 persen akibat gigitan kucing dan kera. Menghindari gigitan anjing adalah salah satu upaya meminimalisir rabies. Tapi jika terkena gigitan anjing ada pertolongan pertama yang bisa dilakukan.

Pada awalnya, Bali bersikukuh untuk mengandalkan strategi eliminasi atau pengurangan populasi anjing sebagai strategi utama. Namun kemudian muncul kritik bahwa cara itu tidak efektif dan bertentangan dengan prinsip kesejahteraan hewan.

Kasus rabies di Bali sendiri sudah berkembang sejak sejak akhir 2008 hingga mencapai 78 kasus hingga Agustus 2010. Sejumlah 35 orang diantaranya kemudian dinyatakan positif meninggal akibat rabies. Rabies sulit ditangani di Bali karena kebiasaan masyarakat memelihara anjing yang sebagian besar diliarkan dan hanya 26 persen saja yang diikat.

Dinas Peternakan juga kesulitan untuk melakukan vaksinasi kepada anjing. Sementara itu tindakan pemusnahan anjing yang sudah mencapai 600.000 ekor ternyata tidak menghentikan penyebaran wabah ini.

Bertepatan dengan 'Hari Rabies Sedunia' yang oleh Alliance for Rabies Control diperingati setiap 28 September sejak tahun 2006, Kementerian Kesehatan Indonesia turut menyampaikan tiga pesan utama di hari rabies ini.
Tiga pesan utama peringatan Hari Rabies Sedunia adalah sebagai berikut.
1. Hindari Gigitan anjing
Kandangkan anjing dan lindungi anak-anak dari resiko tergigit anjing.
2. Pertolongan pertama pada Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR)
a. Cuci luka dengan sabun/deterjen menggunakan air mengalir selama 10-15 menit.
b. Berikan desinfektan atau antiseptik.
c. Segera berobat ke puskesmas/rabies center atau sarana kesehatan lainnya untuk mendapatkan pertolongan dan pengobatan.
3. Pemeliharaan kesehatan anjing anda
Periksakan dengan rutin ke dokter hewan dan vaksinasi.

 

Perjalanan Penyakit

Rabies sangat berbahaya karena hampir selalu diakhiri dengan kematian. Masa inkubasi umumnya 3-8 minggu, berhubungan dengan jarak yang harus ditempuh oleh virus sebelum mencapai otak. Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan, maka selama 2 minggu virus tetap tinggal pada tempat masuk dan didekatnya. tanpa menunjukkan perubahan-perubahan fungsinya. Masa inkubasi bervariasi yaitu berkisar antara 2 minggu sampai 2 tahun, tetapi pada umumnya 3-8 minggu, berhubungan dengan jarak yang harus ditempuh oleh virus sebelum mencapai otak. Virus rabies ini harus melalui beberapa tahap terlebih dahulu hingga akhirnya mencapai otak, yaitu virus masuk melalui gigitan hewan lalu berkembang biak di otot sekitar gigitan. Setelah itu virus akan menginfeksi susunan saraf tepi yang nantinya akan menuju pusat saraf. Jika sudah sampai ke saraf maka virus akan menginfeksi otak dan jaringan lain yang membuat harapan penderita untuk hidup semakin kecil.

 

Gejala Klinis

1. Stadium Prodromal
Gejala awal berupa demam, malaise, mual, dan rasa nyeri di tenggorokan dalam beberapa hari.
2. Stadium Sensoris
Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka. Kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang sensorik.
3. Stadium Eksitasi
Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi, dan pupil dilatasi.
Bersamaan dengan stadium eksitasi ini penyakit mencapai puncaknya, yang sangat khas, pada stadium ini ialah adanya macam-macam fobi, yang sangat terkenal diantaranya ialah hidrofobi.
Kontraksi otot-otot faring dan otot-otot pernapasan dapat pula ditimbulkan oleh rangsang sensorik seperti meniupkan udara ke muka penderita atau dengan menjatuhkan sinar ke mata atau dengan menepuk tangan di dekat telinga penderita.
Pada stadium ini dapat terjadi apnoe, sianosis, konvulsi, dan takikardi. Perilaku penderita tidak rasional kadang-kadang maniakal disertai dengan saat-saat responsif.
Gejala-gejala eksitasi ini dapat terus berlangsung sampai penderita meninggal, tetapi pada saat dekat kematian justru lebih sering terjadi otot-otot melemah, hingga terjadi paresis flaksid otot-otot.
4. Stadium Paralis
Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi. Kadang-kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang, yang memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernafasan.

 

PENANGANAN LUKA GIGITAN HEWAN MENULAR RABIES

Setiap ada kasus gigitan hewan menular rabies harus ditangani dengan cepat dan sesegera mungkin. Untuk mengurangi/mematikan virus rabies yang masuk pada luka gigitan, usaha yang paling efektif ialah mencuci luka gigitan dengan air (sebaiknya air mengalir) dan sabun atau deterjen selama 10-15 menit, kemudian diberi antiseptik (alkohol 70 %, betadine, obat merah dan lain-lain). Meskipun pencucian luka menurut keterangan penderita sudah dilakukan, namun di puskesmas pembantu/puskesmas/ rumah sakit harus dilakukan kembali seperti di atas.

Luka gigitan tidak dibenarkan untuk dijahit, kecuali jahitan situasi. Bila memang perlu sekali untuk dijahit (jahitannya jahitan situasi), maka diberi Serum Anti Rabies (SAR) sesuai dengan dosis, yang disuntikan secara infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin dan sisanya disuntikan secara intra muskuler. Disamping itu harus dipertimbangkan perlu tidaknya pemberian serum/vaksin anti tetanus, antibiotik untuk mencegah infeksi dan pemberian analgetik.

Bila ada indikasi pengobatan :

- Terhadap luka resiko rendah diberi Vaksin Anti Rabies (VAR) saja. Yang termasuk luka yang tidak berbahaya adalah jilatan pada kulit luka, garukan atau lecet (erosi, ekskoriasi), luka kecil disekitar tangan, badan dan kaki.

- Terhadap luka resiko tinggi, selain VAR juga diberi SAR. Yang termasuk luka berbahaya adalah jilatan/luka pada mukosa, luka diatas daerah bahu (muka, kepala, leher), luka pada jari tangan/kaki, genetalia, luka yang lebar/dalam dan luka yang banyak (multipel).

- Untuk kontak (dengan air liur atau saliva hewan tersangka/hewan rabies atau penderita rabies), tetapi tidak ada luka, kontak tak langsung, tidak ada kontak, maka tidak perlu diberikan pengobatan VAR maupun SAR.

- Sedangkan apabila kontak dengan air liur pada kulit luka yang tidak berbahaya, maka diberikan VAR atau diberikan kombinasi VAR dan SAR apabila kontak dengan air liur pada luka berbahaya.

Purified Vero Rabies Vaccine (PVRV). Vaksin terdiri dari vaksin kering dalam vial dan pelarut sebanyak 0,5 ml dalam syringe.
Post Exposure Treatment : injeksi intra muskuler di daerah deltoideus (anak–anak di daerah paha).
Dosis anak = dewasa.
Empat (4) kali pemberian :
- 2x – lengan atas kanan dan kiri (Hari 0)
- 1x (Hari 7)
- 1x (Hari 21)

             
Download brosur rabies disini.

Pemerintah Kabupaten Badung
Dinas Kesehatan

UPT. Puskesmas Kuta I

Jl. Raya Kuta No. 117, Badung, Bali, Indonesia
Telp. (0361) 751311, Fax. (0361) 764735
Email: info@puskesmaskutasatu.com